DUNIAFINANSIAL.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia mencapai US$ 210,63 miliar sepanjang Januari-September 2026, naik 19,67 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Lonjakan terjadi di sektor migas maupun nonmigas, dengan bahan baku dan penolong jadi penyumbang terbesar. Kenaikan ini jadi sinyal permintaan industri dalam negeri yang tetap bergerak.
Paragraf pembuka: Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan angka tersebut dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026). Menurutnya, kenaikan impor terjadi baik pada sektor minyak dan gas (migas) maupun nonmigas.
"Sepanjang Januari-September 2026 total nilai impor mencapai US$ 210,63 miliar atau naik 19,67% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu," kata Ateng.
Migas Naik Lebih Cepat dari Nonmigas
Impor migas tercatat US$ 32,57 miliar, melesat 37,35 persen secara tahunan. Adapun impor nonmigas mencapai US$ 178,06 miliar atau tumbuh 16,92 persen.
Meski pertumbuhan migas lebih tinggi secara persentase, nilai nonmigas tetap mendominasi total impor nasional. Artinya, kebutuhan barang industri dan konsumsi dari luar negeri masih jadi tulang punggung arus masuk barang.
Bahan Baku dan Penolong Jadi Motor Utama
Berdasarkan golongan penggunaan, peningkatan impor terjadi pada seluruh kelompok barang. Namun, impor bahan baku dan penolong menjadi penyumbang utama kenaikan.
Nilai impor kelompok ini mencapai US$ 150,57 miliar, meningkat 21,11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kelompok tersebut memberikan andil peningkatan impor sebesar 14,91 persen.
Kenaikan impor bahan baku dan penolong terutama berasal dari komoditas bahan bakar mineral, mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, serta garam, belerang, batu dan semen. Deretan komoditas itu menandakan aktivitas sektor energi, manufaktur, dan konstruksi masih menyerap pasokan dari luar negeri.
China hingga Uni Eropa Jadi Sumber Kenaikan
Dari sisi negara asal, peningkatan impor terjadi pada sejumlah negara dan kawasan, yakni China, Australia, ASEAN, dan Uni Eropa. Sebaliknya, impor dari Jepang mengalami penurunan.
Dominasi China dan kawasan ASEAN menegaskan posisi mereka sebagai pemasok utama bagi rantai pasok Indonesia. Sementara penurunan impor dari Jepang menunjukkan pergeseran asal barang yang perlu dicermati.
Kinerja Impor September 2026
Khusus pada September 2026, nilai impor Indonesia mencapai US$ 24,23 miliar. Jumlah tersebut meningkat 18,41 persen dibandingkan September 2025.
Impor migas pada September tercatat US$ 3,27 miliar atau naik 23,94 persen secara tahunan. Adapun impor nonmigas mencapai US$ 20,96 miliar atau meningkat 17,59 persen.
"Untuk peningkatan nilai impor secara tahunan ini terutama didorong oleh peningkatan impor non migas dengan andil sebesar 15,33%," kata Ateng.
Penutup: Kenaikan impor hampir 20 persen sepanjang sembilan bulan pertama 2026 mencerminkan permintaan bahan baku yang masih kuat, terutama dari sektor energi dan manufaktur. Bagi pelaku usaha, data ini jadi acuan untuk membaca arah biaya produksi dan pasokan menjelang akhir tahun.