DUNIAFINANSIAL.COM — Bursa Efek Indonesia mencatat 9 perusahaan masih mengantre untuk melantai di pasar saham hingga 6 November 2026, dengan empat di antaranya berasal dari sektor kesehatan. Di sisi lain, 19 penerbit menyiapkan 29 emisi obligasi dan sukuk yang belum masuk pasar.
Antrean itu muncul di tengah pasar modal yang masih menyerap emisi baru. Sepanjang periode yang sama, tujuh perusahaan sudah mencatatkan saham di BEI dengan dana dihimpun Rp2,16 triliun.
Peta Calon Emiten: Kesehatan Mendominasi
Selain empat perusahaan kesehatan, sektor basic materials dan energi masing-masing menyumbang dua calon emiten. Sektor keuangan melengkapi daftar dengan satu perusahaan.
Tidak ada calon emiten dari sektor lain, termasuk teknologi, consumer cyclicals, dan properti. Komposisi ini menunjukkan minat pencatatan saham masih terkonsentrasi di sektor defensif dan berbasis sumber daya.
Dilihat dari ukuran aset, lima perusahaan tergolong skala menengah dengan aset Rp50 miliar sampai Rp250 miliar. Tiga perusahaan masuk kategori besar dengan aset di atas Rp250 miliar, dan satu perusahaan berskala kecil di bawah Rp50 miliar. Klasifikasi ini mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017.
Obligasi: 29 Emisi Senilai Belum Terbit
Di pasar utang, BEI mencatat 156 emisi dari 67 penerbit dengan total dana Rp157,73 triliun. Pipeline masih menyimpan 29 emisi dari 19 penerbit yang belum direalisasikan.
Sektor infrastruktur menjadi penyumbang terbesar dengan lima penerbit. Sektor keuangan menyusul dengan empat penerbit, disusul basic materials dan energi masing-masing tiga penerbit.
Sisanya berasal dari sektor kesehatan, industrials, properti dan real estat, serta transportasi dan logistik, masing-masing satu penerbit. Dominasi keuangan dan infrastruktur mencerminkan kebutuhan pendanaan jangka panjang di dua sektor tersebut.
Rights Issue dan Bekal Bagi Investor
BEI juga mencatat 16 emiten telah menerbitkan saham baru lewat rights issue dengan total nilai Rp37,35 triliun per 6 November 2026. Masih ada satu perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue, yakni dari sektor properti dan real estat.
Bagi investor ritel, antrean IPO dan obligasi ini berarti bertambahnya pilihan instrumen dalam beberapa bulan ke depan. Calon emiten sektor kesehatan patut dicermati karena jumlahnya paling banyak, sementara penerbit obligasi dari sektor keuangan dan infrastruktur menawarkan eksposur ke pendapatan tetap.
Namun, pipeline yang ramai belum tentu semuanya terealisasi. Perusahaan bisa menunda atau membatalkan pencatatan tergantung kondisi pasar dan penyerapan investor.
Deretan calon emiten dan penerbit obligasi ini menjadi indikasi bahwa bursa masih menjadi jalur pendanaan yang diminati korporasi. Bagi pasar, yang perlu diawasi adalah seberapa cepat antrean itu berubah menjadi transaksi nyata.