Laba Bank Mandiri Tembus Rp 46,5 Triliun per Oktober 2026, Naik 19,6%

Laba Bank Mandiri Tembus Rp 46,5 Triliun per Oktober 2026, Naik 19,6%
Laba bersih bank only Bank Mandiri mencapai Rp 46,5 triliun hingga Oktober 2026, tumbuh 19,6% secara tahunan.

DUNIAFINANSIAL.COM — Bank Mandiri membukukan laba bersih bank only Rp 46,5 triliun hingga Oktober 2026, tumbuh 19,6% secara tahunan. Pertumbuhan ditopang ekspansi kredit Rp 1.635 triliun dan lonjakan transaksi digital. Kualitas aset ikut membaik dengan NPL gross turun ke 0,97%.

Paragraf pembuka: Kinerja Bank Mandiri per Oktober 2026 melaju di atas rata-rata industri. Penyaluran kredit tumbuh 16,5% yoy menjadi Rp 1.635 triliun, sementara dana pihak ketiga (DPK) naik 15,1% yoy ke Rp 1.762 triliun. Kombinasi ekspansi kredit dan pendanaan murah itu mendorong laba bersih bank only ke Rp 46,5 triliun, atau tumbuh 19,6% yoy.

Kualitas Aset Justru Membaik di Tengah Ekspansi

Ekspansi kredit biasanya menekan kualitas aset. Bank Mandiri mencatat arah sebaliknya. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross bank only turun ke 0,97% per Oktober 2026, dari 1,02% pada periode sama tahun lalu.

Bantalan pencadangan juga tebal. NPL coverage tercatat 244,5%, sedangkan cost of credit terjaga di 0,55%. Angka itu memberi ruang bagi bank untuk menyerap risiko tanpa menggerus laba.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebut ekspansi dilakukan dengan memilih sektor dan profil risiko debitur secara disiplin. Pembiayaan diarahkan ke sektor pemerintahan, energi dan air, logistik, industri pengolahan logam, serta makanan dan minuman.

Dana Murah Jadi Mesin Pertumbuhan

Dari sisi pendanaan, dana murah (CASA) Bank Mandiri mencapai Rp 1.265 triliun, naik 15,5% yoy. Rasio CASA berada di 71,8%, level yang menekan biaya bunga dan mengangkat margin.

Rinciannya, giro tumbuh 19,3% yoy menjadi Rp 679 triliun dan tabungan naik 11,3% yoy menjadi Rp 586 triliun. Pertumbuhan giro yang lebih cepat dari tabungan menandakan nasabah bisnis makin aktif menaruh dana operasional di bank ini.

Mesin pendorongnya adalah kanal digital. Pengguna terdaftar Livin' by Mandiri mencapai 43 juta, tumbuh 20,4% yoy, dengan frekuensi transaksi 4,22 miliar atau naik 27,8% yoy. Kopra by Mandiri melompat 48,6% yoy menjadi 455.000 pengguna, dengan frekuensi transaksi 1,32 miliar atau naik 8,03% yoy.

Pendapatan Komisi dan Bisnis Emas

Aktivitas transaksi yang ramai berbuah pada pendapatan berbasis komisi (fee-based income/FBI) recurring yang naik 19,8% yoy menjadi Rp 17,2 triliun. Kontribusi terbesar datang dari Livin' dan Kopra yang masing-masing tumbuh 40,9% dan 21,1% yoy.

Bank Mandiri juga menggarap bisnis emas sebagai sumber pertumbuhan baru. Lewat layanan Tabungan Emas di Livin', nasabah bisa jual beli emas secara digital, sementara pembelian emas cicilan tersedia melalui fasilitas KSM Emas.

Novita menegaskan pertumbuhan kredit dijalankan dengan disiplin sektor dan kualitas pembiayaan. "Pertumbuhan kredit kami jalankan dengan disiplin dalam memilih sektor dan menjaga kualitas pembiayaan. Didukung pendanaan yang kuat dan peningkatan aktivitas transaksi nasabah, pendekatan ini menjadi fondasi untuk menghasilkan kinerja yang konsisten sekaligus mendukung kegiatan ekonomi," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (7/11/2026).

Penutup: Bagi investor BMRI, kombinasi laba dua digit, NPL di bawah 1%, dan CASA 71,8% menunjukkan pertumbuhan yang tidak dibeli dengan risiko kredit. Yang perlu dicermati ke depan adalah apakah laju kredit 16,5% bisa bertahan saat biaya dana industri perbankan mulai bergerak.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index