JAKARTA- PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) membukukan laba bersih Rp60,02 miliar pada semester I/2026. Capaian tersebut merosot 94,96% dibandingkan laba bersih Rp1,19 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, pendapatan usaha VIVA juga mengalami penurunan. Perseroan mencatat pendapatan Rp441,44 miliar, turun 7,64% dibandingkan semester I/2025 yang mencapai Rp477,94 miliar.
Penurunan pendapatan terutama berasal dari bisnis iklan televisi. Pendapatan iklan televisi tercatat Rp413,21 miliar, turun dari Rp450,14 miliar pada semester I/2025.
Sementara itu, pendapatan iklan digital juga turun menjadi Rp20,50 miliar dari sebelumnya Rp21,65 miliar. Adapun pendapatan non-iklan meningkat menjadi Rp7,74 miliar dari Rp6,16 miliar.
Beban usaha ikut turun
Seiring dengan penurunan pendapatan, VIVA berhasil menekan beban usaha. Total beban usaha pada semester I/2026 tercatat Rp458,82 miliar, turun dari Rp494,67 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Beban tersebut terdiri atas biaya program dan penyiaran sebesar Rp174,11 miliar serta beban umum dan administrasi Rp284,71 miliar.
Dengan struktur tersebut, VIVA masih mencatat rugi usaha Rp17,37 miliar. Angka itu sedikit lebih besar dibandingkan rugi usaha Rp16,73 miliar pada semester I/2025.
Salah satu komponen terbesar dalam beban program dan penyiaran adalah amortisasi persediaan program materi yang mencapai Rp125,70 miliar.
Di sisi beban umum dan administrasi, komponen gaji, upah dan kesejahteraan karyawan mencapai Rp123,75 miliar, turun dari Rp150,84 miliar pada semester I/2025. Beban pemasaran juga turun menjadi Rp28,66 miliar dari Rp34,50 miliar.
Laba ditopang keuntungan pelepasan saham
Meski masih membukukan rugi usaha, VIVA berbalik mencatat laba sebelum pajak Rp44,61 miliar pada semester I/2026.
Kinerja tersebut dipengaruhi sejumlah pos non-operasional. Salah satunya adalah laba atas pelepasan saham sebesar Rp158,30 miliar.
Namun, perseroan juga mencatat rugi selisih kurs bersih sebesar Rp50,07 miliar, beban dan denda pajak Rp4,29 miliar, serta beban penurunan nilai piutang Rp13,21 miliar.
Setelah memperhitungkan berbagai pos tersebut dan beban pajak penghasilan Rp15,41 miliar, VIVA mencatat laba bersih Rp60,02 miliar.
Adapun pada semester I/2025, laba VIVA mencapai Rp1,19 triliun. Tingginya laba periode tersebut terutama dipengaruhi laba dari implementasi PKPU sebesar Rp1,27 triliun. Pos tersebut tidak kembali muncul pada semester I/2026.
Dengan demikian, penurunan laba bersih yang sangat tajam tidak sepenuhnya menggambarkan perubahan kinerja bisnis inti, karena basis perbandingan semester I/2025 mendapatkan kontribusi keuntungan PKPU yang sangat besar.
Aset VIVA Rp6,34 Triliun
Dari sisi neraca, total aset VIVA per 30 Juni 2026 mencapai Rp6,34 triliun. Nilai tersebut sedikit turun dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp6,38 triliun.
Aset lancar tercatat Rp2,43 triliun, sedangkan aset tidak lancar mencapai Rp3,91 triliun. Salah satu komponen aset tidak lancar terbesar adalah uang muka pembelian aset tetap sebesar Rp1,53 triliun, aset tetap Rp1,12 triliun, serta goodwill Rp601,69 miliar.
Liabilitas Rp5,84 Triliun
Pada saat yang sama, total liabilitas VIVA mencapai Rp5,84 triliun.
Liabilitas jangka pendek tercatat Rp2,13 triliun. Komponen terbesar di dalamnya antara lain utang pajak Rp690,34 miliar, beban masih harus dibayar Rp696,00 miliar, serta pinjaman kepada pihak ketiga yang jatuh tempo dalam satu tahun sebesar Rp252,66 miliar.
Sementara itu, liabilitas jangka panjang mencapai sekitar Rp3,71 triliun. Di dalamnya terdapat pinjaman yang diselesaikan melalui PKPU sebesar Rp2,07 triliun dan utang yang diselesaikan melalui PKPU sebesar Rp1,33 triliun.
Dengan total liabilitas sekitar Rp5,84 triliun dan total aset Rp6,34 triliun, VIVA membukukan total ekuitas Rp496,10 miliar per 30 Juni 2026.
Pendapatan masih didominasi iklan televisi
Struktur bisnis VIVA masih sangat bergantung pada pendapatan iklan. Dari total pendapatan Rp441,44 miliar, sekitar Rp433,70 miliar berasal dari segmen iklan, sementara Rp7,74 miliar berasal dari jasa non-iklan.
Dalam laporan segmen, bisnis iklan menghasilkan pendapatan eksternal Rp433,70 miliar dengan hasil segmen Rp1,52 miliar. Sebaliknya, segmen non-iklan mencatat pendapatan Rp7,74 miliar dan hasil segmen negatif Rp20,93 miliar.
Kinerja VIVA Semester I/2026
| Pos | Semester I/2026 | Semester I/2025 |
|---|---|---|
| Pendapatan usaha | Rp441,44 miliar | Rp477,94 miliar |
| Beban usaha | Rp458,82 miliar | Rp494,67 miliar |
| Rugi usaha | Rp17,37 miliar | Rp16,73 miliar |
| Laba sebelum pajak | Rp44,61 miliar | Rp1,19 triliun |
| Laba bersih | Rp60,02 miliar | Rp1,19 triliun |
| Total aset | Rp6,34 triliun | Rp6,38 triliun* |
| Total ekuitas | Rp496,10 miliar | Rp361,61 miliar* |
*Kinerja posisi keuangan dibandingkan dengan 31 Desember 2025.