JAKARTA- PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) bersiap menghimpun dana segar sekitar Rp1,54 triliun melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) atau rights issue. Aksi korporasi ini diumumkan lewat tambahan informasi penting yang diterbitkan perseroan pada Selasa (6/10/2026), sehari setelah pernyataan pendaftaran dinyatakan efektif oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Emiten pengelola jaringan hotel Alila di Bali ini akan menerbitkan sebanyak 6.154.263.660 saham baru bernilai nominal Rp50 per saham, setara sekitar 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue. Harga pelaksanaan ditetapkan Rp250 per saham.
Setiap pemegang empat saham lama berhak atas satu HMETD, dan setiap satu HMETD dapat ditukar dengan satu saham baru. Pemegang saham yang tidak menebus haknya berpotensi mengalami dilusi kepemilikan maksimal 20%.
Jadwal Penting Rights Issue BUVA
Investor yang ingin mendapatkan HMETD perlu memperhatikan sejumlah tanggal berikut:
- Cum-HMETD pasar reguler dan negosiasi: 13 Oktober 2026
- Ex-HMETD pasar reguler dan negosiasi: 14 Oktober 2026
- Recording date (DPS): 15 Oktober 2026
- Distribusi HMETD: 16 Oktober 2026
- Pencatatan dan periode perdagangan serta pelaksanaan HMETD: 19 sampai 30 Oktober 2026
- Batas akhir pembayaran pemesanan saham tambahan: 3 November 2026
- Penjatahan saham tambahan: 4 November 2026
- Pengembalian uang pemesanan: 5 November 2026
Pengendali Serap Hak, Hapsoro hingga Henan Putihrai Jadi Pembeli Siaga
Pemegang saham pengendali, PT Nusantara Utama Investama (NUI), yang menggenggam 61,07% saham BUVA akan memperoleh 3,76 miliar HMETD. NUI menyatakan akan menebus sekitar 3,47 miliar HMETD, sementara 284 juta HMETD sisanya dialihkan kepada PT Tata Tirta Datun (TTD), yang berkomitmen melaksanakan seluruh hak tersebut. Setelah rights issue, porsi NUI diproyeksikan menjadi 60,15%.
Jika masih ada saham yang tidak terserap, empat pihak bertindak sebagai pembeli siaga dengan komitmen maksimum masing-masing. Ferry Sudjono menjadi pembeli siaga terbesar dengan komitmen hingga 1,31 miliar saham atau sekitar Rp327,8 miliar. Berikutnya Hapsoro hingga 389 juta saham (Rp97,3 miliar), PT Henan Putihrai Sekuritas hingga 400 juta saham (Rp100 miliar), serta TTD hingga 1,6 juta saham (Rp401,6 juta).
Dalam skenario pemegang saham publik tidak menebus haknya, kepemilikan Ferry Sudjono diproyeksikan naik menjadi 4,92%, TTD 4,87%, Hapsoro 1,44%, dan Henan Putihrai Sekuritas 1,30%.
Rencana Penggunaan Dana
Setelah dikurangi biaya emisi, dana hasil rights issue akan dialokasikan untuk lima pos utama:
- Rp426,34 miliar untuk penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai (BBP). Dana ini akan dipakai BBP untuk mengakuisisi PT Royal Uluwatu Residence (RUR) senilai Rp199,26 miliar paling lambat Desember 2026, serta menyuntik modal RUR Rp227,08 miliar guna mengembangkan proyek West Resort di Uluwatu yang ditargetkan rampung kuartal IV 2029.
- Rp417,8 miliar untuk pelunasan dipercepat seluruh pokok utang kepada Bank Mandiri.
- Rp150 miliar untuk renovasi menyeluruh Alila Ubud, mencakup interior, eksterior, dan fasilitas penunjang, ditargetkan selesai kuartal IV 2028.
- Rp150 miliar untuk penyertaan modal di PT Bukit Lagoi Villa (BLV) guna membangun infrastruktur kawasan wisata terpadu Lagoi, Bintan.
- Rp390,34 miliar untuk penyertaan modal di PT Bukit Permai Properti (BKPP) untuk pembangunan infrastruktur Uluwatu Estate, seperti jalan, galeri seni, taman alam, dan fasilitas olahraga.
Kinerja Keuangan: Okupansi Turun, Tarif Kamar Naik
Dari sisi kinerja, BUVA membukukan pendapatan Rp96,32 miliar pada empat bulan pertama 2026, turun tipis 1,96% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Manajemen menyebut penurunan dipicu berkurangnya jumlah tamu akibat faktor musiman dan konflik geopolitik di Timur Tengah. Tingkat okupansi hotel turun dari 51,18% menjadi 47,31%, namun rata-rata tarif kamar harian (ADR) naik 5,86% menjadi Rp5,44 juta.
Pada periode yang sama, perseroan mencatat rugi bersih Rp5,66 miliar, berbalik dari laba Rp73,17 miliar setahun sebelumnya. Manajemen menjelaskan laba periode 2025 terdongkrak pengakuan laba entitas asosiasi sebesar Rp76,1 miliar dari penjualan aset PT Bukit Savanna Raya, sehingga penurunan tahun ini tampak tajam.
Untuk tahun buku 2025, BUVA meraup pendapatan Rp375,58 miliar, naik 5,72%, dengan laba bersih Rp195,15 miliar. Lonjakan laba tersebut ditopang keuntungan pembelian diskon senilai Rp120,58 miliar atas akuisisi PT Bukit Permai Properti.
Per 30 April 2026, total aset perseroan mencapai Rp2,71 triliun dengan rasio liabilitas terhadap ekuitas (DER) 26,57%. Namun, debt service coverage ratio (DSCR) perseroan tercatat 83,46%, di bawah persyaratan perjanjian kredit yang mensyaratkan di atas 100%. Rencana pelunasan dipercepat utang Bank Mandiri dari dana rights issue menjadi salah satu poin yang patut dicermati investor.
Mengandalkan Pariwisata Premium Bali
BUVA saat ini mengoperasikan tiga hotel bintang lima berafiliasi merek Alila, yakni Alila Villas Uluwatu, Alila Ubud, dan Alila Manggis. Manajemen menilai prospek segmen hotel mewah di Bali tetap menjanjikan seiring pertumbuhan kunjungan wisatawan pascapandemi, sementara keberadaan tiga properti di lokasi berbeda memberikan diversifikasi dalam satu pulau.
Perseroan menyebut risiko utama yang dihadapi adalah persaingan usaha, sedangkan risiko bagi investor adalah fluktuasi harga dan likuiditas saham yang dipengaruhi kondisi pasar modal.
Artikel ini disusun berdasarkan keterbukaan informasi perseroan dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.